W3b3’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pilkada dan Masa Depan Banyumas

Posted by bambang wibiono pada Desember 26, 2007

Pilkada dan Masa Depan  Banyumas?

Oleh: Bambang Wibiono* 

Hiruk pikuk perpolitikan lokal saat ini diwarnai dengan agenda pesta demokrasi di daerah yang bernama Pilkada. Tingkat keberhasilan demokrasi di suatu negara dapat dilihat pada demokrasi di tingkatan lokal. Sebab demokrasi itu lahir dari tingkatan yang paling kecil bahkan dimulai dari tingkatan keluarga. Semakin demokratis pada lingkup yang lebih lokal maka ini akan membuka kran demokrasi pada tingkatan nasional.

Demokrasi juga perlu didukung oleh sebuah payung hukum. Tanpa adanya aturan yang mengayomi, maka akan sulit dicapai. Aturan atau undang-undang sangat menentukan arah demokrasi dari sebuah negara.

Di tingkat daerah, suhu politik mulai terlihat memanas menjelang Pilkada. Tidak lama lagi di Kabupaten Banyumas akan segera diselenggarakan pesta demokrasi yaitu Pilkada yang diselenggarakan tahun 2008. Sebuah aturan main dalam Pilkada mulai digodok oleh para elit di daerah. ‘Pertarungan’ kepentinganpun akan semakin terlihat menjelang Pilkada. Semua aktor-aktor politik mulai memainkan perannya untuk merebut atau  mempertahankan kekuasaan. Friksi-friksi dalam tubuh legislatif pun mulai terjadi, mulai dari perdebatan aturan pencalonan kepala daerah hingga mekanisme Pilkada yang akan dilaksanakan. Masing-masing kelompok tentunya saling menekan agar peraturan yang dibuat akan memudahkan kelompoknya (Parpol) memperoleh keuntungan dari kebijakan tersebut. Namun semua harus kembali pada hakekat demokrasi yang sebenarnya.

Banyak ilmuwan politik berpendapat bahwa sebenarnya budaya demokrasi sudah ada di masyarakat Indonesia. Bung Hatta misalnya menyebutkan bahwa demokrasi Indonesia sebenarnya adalah demokrasi yang ada di tingkatan lokal atau desa. Sejak dahulu pemilihan kepala desa atau perangkat desa di negeri ini sudah menggunakan prinsip-prinsip demokrasi seperti pemilihan secara langsung, dan musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan.

Kerawanan dalam Pilkada

Interferensi oleh elite lokal menjadi sumber ancaman bagi pelaksanaan demokrasi di daerah melalui pilkada langsung. Elite lokal, yang dimaksud dari para calon kepala daerah (bupati/gubernur) bisa setiap saat melakukan represi terhadap sistem dan mekanisme pilkada yang kewenangannya diserahkan ke KPUD. Pilkada kali ini muncul sebuah alternatif baru dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Banyumas. Alternatif yang ditawarkan oleh KPUD Banyumas seperti disebutkan di media massa adalah pertama pemilihan secara konvensional. Artinya pemilihan dilakukan seperti yang sudah-sudah. Masyarakat yang mempunyai hak pilih mendatangi tempat pemilihan untuk mencoblos. Dan pilihan kedua, adalah yang baru yaitu panitia pemilihan akan mendatangi rumah-rumah warga untuk mencoblos. Jadi warga tidak usah repot-repot mendatangi TPS. Katanya alternatif yang kedua ini dimaksudkan agar maksimal dan ideal hasilnya. Karena mau tak mau pemilih diharuskan memilih.

Permasalahan yang kemudian timbul adalah mekanisme seperti ini sangatlah rawan terhadap kecurangan. Dan tentunya dengan mekanisme seperti ini ditengarai untuk menguntungkan salah satu pihak dan tentunya adalah elit yang saat ini sedang berkuasa. Dengan adanya pemilihan dengan cara “jemput bola” tersebut bisa dijadikan celah untuk intimidasi pada warga untuk memilih salah satu pasangan calon. Jika ini yang terjadi, maka demokrasi belum bisa terwujud dalam Pilkada Banyumas. Setiap orang pun memiliki hak untuk tidak memilih, karena tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan. Orang yang memilih untuk tidak memilih bisa juga karena telah memiliki kesadaran politik yang tinggi. Mereka tahu bahwa calon yang ada tidak bisa menjamin kemajuan daerahnya, sehingga memutuskan untuk tidak memilih daripada memilih tapi harus mengorbankan masa depan daerahnya. Jadi memilihpun tidak bisa dipaksakan.

Sudah saatnya masyarakat diberi kesadaran politik agar kelak Pilkada yang akan dilaksanakan tidak mengecewakan dan tentunya lebih memihak pada rakyat kecil dan pembangunan Banyumas. Apakah kemudian dengan mekanisme yang ditawarkan kita akan menghancurkan budaya demokrasi yaitu demokrasi pedesaan yang telah ada sejak dahulu sebagai warisan nenek moyang bangsa ini seperti yang telah dikatakan oleh Bung Hatta ? Semua itu tergantung pada kita semua sebagai warga yang melaksanakan dan yang akan merasakan dampaknya. Mari kita tumbuhkan kesadaran politik demi kemajuan negara pada umumnya dan kemajuan Kabupaten Banyumas pada khususnya.

Masa depan yang bagaimana?

Yang diperlukan oleh masyarakat Banyumas saat ini adalah bagaimana cara menyelesaikan segala persoalan yang ada di wilayah ini. Wilayah Banyumas yang seharusnya dikenal sebagai wilayah yang kaya akan hasil pertanian tapi sekarang telah tergeser oleh gedung-gedung Mall, dan kantor-kantor dengan bangunan yang megah. Masyarakat pribumi semakin terasing dari tempat kelahirannya sendiri. Usaha masyarakat yang dulu sebagai pengusaha pertanian tetapi sekarang hanya menjadi sekedar buruh tani yang miskin dengan kondisi lahan yang kian sempit tergusur oleh gedung. Bahkan sebagian besar sudah beralih profesi menjadi buruh-buruh pabrik, karyawan supermarket, dan pelayan toko. Pembangunan yang selama ini dilakukan malah kian menyudutkan eksistensi masyarakat Banyumas sendiri.  

Pembangunan yang berbasis ‘modernisasi’ atau industrialisasi yang saat ini sering digembar-gemborkan terasa kurang cocok dan belum bisa menyelesaikan masalah. Apalah artinya jika industrialisasi dibangun seperti di Purbalingga, dan menarik investor asing jika masyarakat hanya sebagai buruh yang kian tertindas dan tidak jelas nasibnya. Sebab saat ini semua sektor selalu menerapkan sistem kontrak. Ini sebagai bukti kurang tanggung jawabnya para pemilik modal. Akankah mereka terjajah dan tertindas di negeri sendiri ? Apakah dengan menarik para investor baik lokal maupun asing mampu mengatasi kemiskinan dan mampu meningkatkan kesejahteraan ? Lantas pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh daerah ini ?.

Sebagai masyarakat pedesaan yang awam, mereka tidak banyak menuntut. Yang mereka inginkan cuma perbaikan nasib. Mereka tidak akan teriak dan mengusik pemerintah jika kebutuhan mereka terpenuhi. Saat ini tentu mereka lebih manginginkan kondisi seperti masa orde baru lalu, yang walaupun kondisi negara rawan kehancuran namun rakyat dibuai oleh kecukupan kebutuhan. Oleh karena itu diperlukan pemimpin yang berani dan tegas dalam segala tindakan tanpa diintervensi oleh kaum pemilik modal. Namun celakanya perpolitikan di negara ini apalagi di Kabupaten Banyumas tidak bisa dilepaskan dari konglomerat dan pemilik modal sebagai imbas dari globalisasi. Sebab kaum pemilik modal berada di balik pengusungan calon Bupati sebagai penyokong dana. Sebagai balasannya tentu mereka menginginkan agar  segala kegiatannya mendapat persetujuan dan perlindungan oleh pemerintah, serta segala proyek pemerintah diberikan padanya. Oleh karena itu jangan mudah tertipu oleh janji-janji calon Bupati nanti, dan jangan percaya pada calon yang ngotot ingin menjadi kepala daerah. Sebab dari ambisi tersebut tentu punya keinginan tertentu yang menguntungkan pribadinya. Sebab secara logika mana ada orang yang mau memikul tanggung jawab besar jika tak ada keuntungan bagi diri pribadi. Jika ada orang yang ngotot minta dicalonkan dapat dipastikan dia akan cenderung mangutamakan kepentingan pribadi dan golongannya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang diangkat atau dicalonkan oleh rakyatnya dan inilah legitimasi yang kuat. Karena rakyatlah yang menilai kemampuan atau kelayakan seorang pemimpin bukan diri sendiri yang menilai. Kini masa depan Kabupaten Banyumas tergantung pada pemimmpin yang akan datang, dan kitalah yang akan memilihnya, maka diperlukan kecermatan dalam memilih. Jangan mengukur pada keuntungan jangka pendek tapi juga harus dipikirkan keuntungan jangka panjang. Selamat berpesta demokrasi.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: